
Kamis, 20 Agustus 2026
Hari ini, ada satu hal sederhana yang kembali mengingatkan saya bahwa kolaborasi yang baik bukan hanya tentang bisnis.
Tetapi tentang manusia yang ada di baliknya.
Bertempat di Cafe Onkel John Makassar, kami organisasi ALFI membicarakan peluang kerja sama antara ALFI dan BTN.
Branch Manager BTN Makassar, Alem Wijaya, membuka ruang kolaborasi dengan anggota ALFI. Salah satu gagasan yang menarik adalah bagaimana para driver dan staf perusahaan anggota ALFI bisa memiliki rumah melalui sistem payroll yang tercatat di perbankan, sehingga kebutuhan pembiayaan, khususnya KPR, dapat lebih mudah mendapatkan dukungan dari BTN.
Ketua Umum ALFI, Yodi Nalendra, melihat peluang ini bukan sekadar kerja sama perbankan.
Ia ingin sinergi ALFI dan BTN dibuat lebih besar dan lebih nyata.
Bukan hanya KPR subsidi bagi driver dan pekerja, tetapi juga peluang KUR tanpa jaminan sesuai ketentuan, sistem payroll, hingga dukungan terhadap kebutuhan usaha anggota ALFI.
Ada satu gagasan yang menurut saya juga sangat penting: parkiran truk yang luas.
Dunia logistik membutuhkan ruang. Truk membutuhkan tempat. Dan pertumbuhan usaha membutuhkan infrastruktur yang memadai. Karena itu, BTN diharapkan dapat ikut melihat kebutuhan fasilitas umum yang mendukung ekosistem logistik. Namun, ada satu kalimat ketua umum Yodi yang paling menarik untuk direnungkan: “Pengusaha wajib memikirkan rumah bagi pegawai dan drivernya.” Sebab kesejahteraan pekerja tidak selalu harus dimulai dari kenaikan penghasilan. Kadang, ia dimulai dari sebuah rumah.
Tempat seorang driver pulang setelah berhari-hari di jalan.
Tempat seorang pekerja membesarkan anak-anaknya.
Tempat keluarga belajar tentang arti memiliki masa depan.
Untuk itu, pembahasan lokasi perumahan subsidi juga diarahkan agar dekat dengan pusat aktivitas logistik dan kawasan pelabuhan. Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Galesong, Batu-Batu, belakang Sudiang, serta Samata di sekitar UIN.
Turut mendampingi pertemuan ini, Hasyim, Pembina ALFI, yang juga mendorong agar sinergi tersebut tidak berhenti pada pembicaraan.
Ada rencana yang lebih konkret dilakukan: penandatanganan MoU antara BTN dan ALFI. Saya selalu percaya, sebuah MoU bukanlah akhir dari sebuah pertemuan. Ia justru adalah awal dari sebuah tanggung jawab. Karena pada akhirnya, kerja sama yang baik bukan tentang berapa banyak tanda tangan yang dibubuhkan. Tetapi tentang berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik setelahnya.
ALFI membawa kekuatan dunia logistik.
BTN membawa kekuatan pembiayaan.
Jika keduanya berjalan bersama, semoga yang lahir bukan hanya transaksi bisnis. Tetapi juga rumah, kesejahteraan, kepastian, dan harapan. Sebab di balik setiap truk yang bergerak, ada manusia yang bekerja. Dan di balik setiap manusia yang bekerja, ada keluarga yang menunggu mereka pulang. Mungkin, rumah adalah bentuk paling sederhana dari sebuah penghargaan, bagi pemilik usaha.
Salam
Asrul Sani Abu