
Antrean Solar, Barcode Bocor, dan Jarak yang Terlalu Panjang
Makassar, 20 April 2026.
Rapat berjalan tenang. Tidak ada nada tinggi. Tetapi substansinya berat. Distribusi BBM di Sulawesi Selatan dan Barat kembali dibuka apa adanya: sistem ada, tekanan juga nyata.
Ketua ALFI Yodi Nalendra memimpin bersama Sekretaris Muh. Hatta. Hadir para anggota, termasuk Asrul Sani Abu. Dari Pertamina, Rainier Axel Siegfried Parlindungan menegaskan satu kata kunci: koordinasi.
Di titik itu, masalah ini mulai dibedah.
Ikut hadir dalam meeting ini, pimpinan rapat Yodi Nalendra bersama Muh. Hatta
Anggota ALFI

Pihak Pertamina Patra Niaga
Tim terkait lainnya
1. Wilayah Panjang, Sistem Tertekan
Tantangan
Distribusi Sulselbar tidak sederhana. Jarak panjang. Medan beragam. Konektivitas tidak merata. Dalam praktik, lebih kompleks dari Jawa. Sistem yang di atas kertas rapi, di lapangan terus diuji.
Solusi
Pendekatan distribusi tidak bisa generik.
Perlu:
Pemetaan rute logistik berbasis data real (asal–tujuan–volume)
Penentuan prioritas jalur kritis (Parepare–Luwu–Soroako)
Penyesuaian suplai berbasis karakter wilayah, bukan rata-rata
Distribusi harus presisi, bukan sekadar tersedia.
2. Solar: Konsumsi Ganda, Konflik Terbuka
Tantangan
Solar tidak hanya untuk kendaraan. Sektor non-transportasi ikut menyerap. Dua kebutuhan bertemu di sumber yang sama. Antrean menjadi fluktuatif. Tidak stabil.
Solusi
Harus ada pemisahan kendali:
Kuota tegas antara transportasi dan non-transportasi
Penyaluran sektor industri melalui jalur khusus, bukan SPBU umum
Pengawasan musiman (terutama panen) untuk mencegah lonjakan liar
Jika tidak dipisah, konflik akan berulang di pompa yang sama.
3. Antrean Truk: Dari Logistik ke Keselamatan
Tantangan
Antrean truk di titik padat seperti Jalan Tentara Pelajar bukan lagi soal distribusi. Sudah masuk risiko kecelakaan. Konsentrasi kendaraan di waktu dan lokasi yang sama.
Solusi
Distribusi waktu dan titik harus dipecah:
Penjadwalan pengisian berbasis shift
Penambahan SPBU atau titik suplai di zona padat
Pengaturan prioritas kendaraan logistik
Logistik tidak boleh mengorbankan keselamatan pengguna jalan.
4. Barcode Bocor: Sistem Ada, Celah Terbuka
Tantangan
Barcode disalahgunakan. Terblokir tapi tetap dipakai. Satu kendaraan bisa menggunakan lebih dari satu kode. Kuota tidak tepat sasaran.
Solusi
Penguatan sistem, bukan hanya aturan:
Barcode melekat pada kendaraan, bukan individu
Verifikasi visual saat pengisian (foto kendaraan real-time)
Refresh sistem berkala (kode lama dimatikan)
Integrasi database lintas instansi
Sekitar 3.000 nomor polisi sudah diblokir. Artinya masalahnya nyata, bukan asumsi.
5. Distribusi Tidak Merata
Tantangan
Depot tersedia: Makassar, Parepare, Palopo. Tetapi distribusi tidak merata. Jalur Parepare–Luwu tetap kekurangan. Truk harus isi penuh dari awal perjalanan.
Solusi
Distribusi harus mengikuti arus logistik:
Redistribusi suplai ke wilayah under-supply
Penempatan buffer stock di titik rawan
Sinkronisasi data kebutuhan dari pelaku logistik
Ketersediaan tidak cukup. Harus sampai di titik yang benar.
6. Kebocoran Non-Kendaraan
Tantangan
Jerigen tanpa kontrol. Lonjakan konsumsi saat panen. Perpindahan ke sektor industri tanpa pengawasan.
Solusi
Penertiban berbasis disiplin:
Larangan jerigen tanpa rekomendasi resmi
Pengawasan lapangan terpadu (Pertamina–aparat)
Audit konsumsi sektor non-transportasi
Ini bukan sekadar teknis. Ini soal kepatuhan.
7. Panic Buying: Masalah Psikologis Distribusi
Tantangan
Kapasitas BBM sebenarnya cukup. Namun panic buying menciptakan antrean. Antrean menciptakan persepsi langka. Persepsi memicu pembelian ulang.
Solusi
Intervensi bukan hanya suplai, tetapi persepsi:
Transparansi stok harian di SPBU
Komunikasi publik yang konsisten
Pengendalian pembelian berlebih
Distribusi tidak hanya soal fisik. Tapi juga psikologi pasar.
Arah Bersama
Rapat menghasilkan garis yang jelas yaitu:
Ketua ALFI, Yodi Nalendra, menutup dengan langkah konkret: pendataan kendaraan anggota. Respons harus cepat. Tidak menunggu krisis berikutnya.
Masalahnya bukan tunggal.
Wilayah luas. Konsumsi ganda. Sistem belum tertutup.
Jika bekerja sendiri, semua akan lambat.
Jika bekerja bersama, celah bisa dipersempit.
Distribusi BBM tidak butuh wacana panjang.
Ia butuh data, disiplin, dan pengawasan yang konsisten dari semua pihak saling memantau dan mengawasi.
Jika tidak, antrean akan kembali.
Barcode akan kembali bocor.
Dan sistem akan selalu tertinggal dari kebutuhan.
Salam.
Asrul Sani Abu | Pengurus ALFI